Bojong – Kamis (28/8/2025) Suasana pembelajaran dalam layanan Bimbingan Konseling (BK) di MTs Negeri 4 Tegal terasa berbeda dari biasanya. Papan tulis yang lazimnya menjadi media transfer ilmu pengetahuan, kali ini beralih fungsi menjadi sebuah kanvas ekspresi yang dipenuhi puluhan lembar sticky note berwarna-warni. Ini adalah bagian dari metode pembelajaran inovatif yang bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan emosional dan empati siswa.
Dalam sesi yang berlangsung interaktif tersebut, guru BK membagikan satu lembar sticky note kepada setiap siswa. Mereka diberikan instruksi untuk menuliskan satu kata atau kalimat yang paling mewakili perasaan mereka saat itu juga, tanpa perlu menyertakan identitas. Inisiatif ini memberikan ruang aman bagi siswa untuk secara jujur mengekspresikan kondisi emosional mereka, mulai dari rasa bahagia, cemas, bingung, hingga harapan.
Secara bergantian, para siswa maju ke depan kelas untuk menempelkan catatan kecil mereka, mengubah papan tulis menjadi sebuah mozaik perasaan yang merepresentasikan dinamika emosi di dalam kelas. Puncak dari kegiatan ini terjadi ketika beberapa siswa yang ditunjuk secara acak membacakan isi dari beberapa sticky note di hadapan teman-temannya.
Momen tersebut berhasil menciptakan suasana yang reflektif. Ketika sebuah perasaan positif dibacakan, senyum dan tawa ringan menghiasi ruangan. Sebaliknya, saat ungkapan kegelisahan atau kesedihan terdengar, seluruh kelas hening, menunjukkan sikap saling memahami dan berempati.
Menurut guru BK MTsN 4 Tegal, kegiatan ini dirancang untuk mencapai beberapa tujuan pedagogis. “Pertama, kami ingin siswa belajar mengenali dan menamai emosi mereka sendiri, yang merupakan dasar dari kecerdasan emosional. Kedua, dengan mendengarkan perasaan teman-temannya—meskipun anonim—mereka belajar bahwa merasakan berbagai macam emosi adalah hal yang wajar dan mereka tidak sendirian,” paparnya.
Metode “Dinding Perasaan” ini terbukti efektif dalam membangun iklim kelas yang lebih terbuka, suportif, dan inklusif. Melalui selembar kertas catatan, para siswa tidak hanya belajar tentang diri mereka sendiri, tetapi juga tentang pentingnya memahami dan menghargai perasaan orang lain, sebuah keterampilan sosial yang krusial untuk masa depan mereka.